Monday, September 29, 2008

Begadang_omongin cerpen ah

Whoahm,

Saya terlalu excited dengan cerpen pertama yang akhirnya rampung juga-KOSONG-demi mengejar sebuah impian. Juara lomba nulis sma, duitnya lumayan bos, haha

Makanya banyak orang banyak saya suruh add coment, mo jelek bagus, saya terima. Namanya juga masi pemula, masi amatir.

For your info, that story is just a fiction, yeah, some real story added, but it's true fiction, nama2nya aja fiksi banget, hahaha

Sekarng saya masi begadang, lagi asik buka internet kan gratis pake speedy. huhu

youdah, keep on going yow
JBU

Saturday, September 27, 2008

KOSONG

Matahari sudah keluar dari sarangnya di timur. Dengan angkuh ia menunjukkan kuasanya menerangi bumi. Sudah pukul delapan pagi. Cuaca belum terlalu panas pagi itu di kawasan Bulungan. Aku menyapa Mamat dan Taufik–satpam di sekolahku–dan masuk ke lingkungan SMAN 70 yang asri.

Terima rapor tinggal dua minggu lagi. Sekolah tampak sepi sekali, yang datang saat itu hanya siswa-siswa yag ketinggalan pelajaran, alias kurang pintar. Dan sisanya siswa yang mau bersenang-senang, contohnya: yang mau bertemu dengan pacar dan yang mau pacaran. Jadi sama saja: mau merajut kasih. Aku tergolong siswa yang cukup pintar, jadi aku tidak masuk ke kategori yang pertama. Ya, benar sekali, aku ke sekolah mau pacaran.

Aku berjalan naik ke atas, melewati tangga utas–tangga khusus siswa kelas X. Aku naik dengan tanpa beban. Sebab agit–sebutan untuk siswa kelas XII–sudah tidak pernah terlihat lagi. Setelah sampai di lantai tiga, aku menyempatkan diri untuk bercermin sejenak. Aku ingin memastikan bahwa tidak ada cabai yang tersangkut di kawat gigiku dan atau ada sesuatu yang tidak sedap dipandang mata. Maklum, kalau mau bertemu pujaan hati harus menjaga penampilan.

Kelasku terletak cukup jauh dari cermin di depan tangga. Kelasku XG. Sebutannya XGoblok, jujur aku merasa malu mendengarnya. Aku merasa tidak sebodoh itu untuk dipanggil goblok. Namun, setelah aku sempat memimpin kelas ini selama 6 bulan lebih, sepertinya itu nama yang relevan.

“Hai Put! Kamu sedang apa? Di kelas ada siapa saja?” sapaku ramah.

Hei Ndro! Aku mau menumpulkan tugas Bahasa Francis yang belum, kamu tahu kan nilaiku yang kemarin memalukan sekali. Di kelas ada Roni, Icha, sama teman-temannya. Oh iya, ada Rina! Sandro, kasian sekali pacarmu itu dibiarkan sendirian di pojok kelas. Nah, kamu sendiri ke sekolah untuk apa?” balas Putri dengan cepat.

Dia berbicara dengan cepat sekali. Seperti orang Ambon saja logat bicaranya. Putri adalah teman baikku di kelas. Kami berdua cukup dekat, tapi tidak memiliki kedekatan bak kekasih. Kami berdua seperti dua orang tidak waras yang punya dunia sendiri bila sedang bersendagurau. Mungkin dunia yang letaknya lebih jauh dari Pluto. Sebab semua orang enggan bergabung dengan dunia kami yang jauh dari akal sehat itu.

Hei Sandro!” Kok malah bengong? Jawab!” serempet Putri dengan cepat, kali ini dengan logat Batak, keras dan tegas. Mungkin ditambah logat Bali, sebab setelah bicara ia bergaya seperti penari kecak. Dasar aneh.

“Iya Put, maaf ya, tadi aku termenung melihat kecantikanmu!” rayuku sambil berlalu pergi. “Rina benar sendirian? Ya sudah kalau begitu aku pergi ya. Dadah. Salam buat Monsieur Santosa!” ujarku dengan logat Jawa yang dibuat terlalu kental, sambil diiringi langkah seribu meninggalkan Putri. Apalagi setelah dia sudah memasang kuda-kuda akan melakukan tarian mistik. Maksudnya tarian dari mayestik mungkin.

Langkahku ringan sekali, lebih ringan dari bulu angsa, bahkan dari bulu ketiak. Walaupun aku belum pernah menimbang keduanya. Intinya aku semangat sekali, aku mau bertemu pacarku! Di depan kelas XD aku melihat teman-teman yang masuk ke kategori pertama, yang ingin bersenang-senang. Wajah mereka melambangkan kesombongan. Sepertinya sombong karena menang main judi. Terserahlah, main judi kan tidak baik kata Bang Haji Rhoma Irama.

Kira-kira 15 langkah lagi aku akan sampai di kelas yang dihuni orang-orang kurang pintar-XG. Akhirnya, sampai juga, langkahku berhenti tepat di depan pintu kelas. Mataku menjelajahi seisi kelas bagaikan anak petani mencari kutu di punggung kerbau kesayangan. Dan mataku pun menemukan sesuatu yang dicari. Dia berada di pojok kelas, sendirian. Dia duduk menghadap tembok, dengan posisi sedikit menunduk.

Otaku mencoba mencocokan objek yang ditangkap mata dengan kumpulan memori yang ruwet. Di otakku yang sangat kompleks, tepatnya di bagian basis data perempuan sedang terjadi sebuah pekerjaan yang tidak terbayangkan.

“Berambut ikal warna hitam, berkulit putih, bermata dua, memiliki hidung dengan dua lubang, dan dia menapak ke di tanah. Itu pacarnya bos. Aku yakin sekali,” lapor Operator Rupa Pencocok kepada Supervisor Operator di Departemen Basis Data Perempuan di otak sebelah kiri. Hebat sekali otakku, penuh dengan pekerja-pekerja unik.

Tapi, perempuan itu dengan tiba-tiba tertawa malu-malu dengan tidak wajar. Pikiran Negatif pun menyusup ke dalam pikiranku yang sudah overload. Aku merasa bahwa pacarku–kalo memang benar dia pacarku–gila. Orang normal tidak akan tertawa sendirian di pojok dengan tembok. Memangnya tembok itu lucu? Apa memang benar? Aku jadi ingin bergabung dengannya. Dan tiba-tiba saja waktu seperti berhenti dan terjadi peperangan batin.

“Eh Sandro, pacarmu gila tuh. Masak tertawa sendirian sama tembok!” ucap si Pikiran Negatif, kita sebut saja Piti, biar gaul.

“Sandro! Dia itu bukan pacarmu! Pacarmu tidak gila, yang gila itu kamu!” bantah si Supervisor Operator, kita panggil saja Soto, biar lapar. Entah mengapa mendengar kata-katanya aku merasa sedikit tersinggung.

“Bos, Anda harus menerima dia apa adanya,” kata si Ucok-si rupa pencocok-dengan bijak sambil mendendangkan lagu Once.

“Gila lo Ndro!” bisik Soto dengan mencekam.

“Gila lo Ndro!” tutur Ucok dengan kasar namun lembut.

“Gila lo Ndro!” seru Piti, Soto, dan Ucok dengan kompak. Kali ini mereka mengucapkannya berulang-ulang dan mirip dengan gaya Kasino saat Indro membuat Dono tersangkut di pohon cabai. Memang bisa? Memang ada adegan seperti itu? Mungkin ada kalo sutradaranya gila, ya seperti aku ini, doakan saja tidak.

“Diam kalian semua!” bentakku dengan lantang menghentikan peperangan batin yang berlangsung alot. Piti, Ucok, dan Soto pun terdiam tersipu dan memilih untuk bermalas-malas di ruang rahasia di samping Departemen Basis Data Perempuan.

Waktu seakan terkaget mendengarnya dan ia pun terbangun dari tidurnya. Kali ini dia sudah segar bugar dan siap untuk bekerja lagi. Aku pun tanpa banyak bicara mendatangi pacar aku–Rina–di pojokan. Di sudut kelas itu menyimpan banyak kenangan.

“Rina, sedang apa? Maaf ya lama,” sapaku dengan penuh perhatian.

“Eh Sandro, kamu sudah datang toh. Tidak apa-apa kok. Aku sedang baca buku,” jawabnya sambil tersenyum hangat. Masih hangat, berarti dia baru saja tertawa dengan panas. Sebuah analisis yang tidak penting.

Aku sedikit lega. Berarti dia tidak gila. Tapi aku juga sedikit kecewa, sebab tiada alasan kupunya untuk memutuskan hubungan kami. Aku bertanya dalam hati, buku apa gerangan yang mampu membuat Rina tertawa? Apakah buku horor? Aku jadi teringat bahwa selain hal-hal yang memang layak ditertawakan, dia juga tertawa di saat orang menjerit ketakutan.

Dulu aku pergi menonton film horor yang cukup menyeramkan dengan dia. Hampir seluruh penonton ketakutan. Ketika sang setan muncul mendadak, seisi bioskop menjerit, kecuali Rina. Entah dia menganggap ini film komedi atau bukan, yang pasti dia tertawa gembira melihat si setan.

“Hahahaha, lucu sekali setan itu,” tawa Rina dengan polos. Menurutku ini aneh, hal ini mengerikan. Lebih mengerikan dari film ngeri, lebih menyeramkan dari film seram, dan juga lebih .. stop, cukup.

“Rina, baca buku apa sih? Sepertinya lucu sekali,” tanyaku dengan penasaran.

“Bukunya memang lucu,” jawabnya sambil menghadapkan bukunya. Buku itu berjudul: ‘Pacaran dengan Anjing’. Benar-benar buku ‘lucu’, dari judulnya sudah terlihat.

“Lucu sekali, soalnya aku merasakan sesuai dengan yang ada di buku ini,” Tambahnya sambil menatap mataku dalam-dalam dan diakhiri dengan tawa kecil.

Sangat lucu. Aku sepertinya mulai mengerti: dia menganggap aku anjing. Sepertinya perempuan ini minta diberikan pelajaran. Mungkin pelajaran ‘Bagaimana menjadi pacar Sandro yang baik dan soleha’.

“Kita jadi pergi kan? Sekarang saja ya. Aku sudah bosan di sini,” Pintanya dengan manja membuyarkan pikiranku yang tanpa disadari sudah dirasuki Piti.

Aku mengangguk pelan dan kami pun pergi ke Pondok Indah Mall. Waktu yang tadi sudah berjalan normal, aku paksa berlari kencang. Kali ini waktu seperti cepat sekali.

Siang itu PIM sedang sepi. Aku bersama dengan Rina berjalan mengelilingi mall ini berulang kali. Aku mencoba melakukan apa yang dilakukan oleh pasangan-pasangan remaja zaman sekarang: ‘jalan-jalan’ di mall. Masalahnya aku menjalankannya dengan pengertian harfiah. Kami hanya berjalan saja di sana.

Saat itu Rina terlihat cukup cantik dan beraroma wangi. Jujur saja, aroma parfumnya sama dengan kepunyaan mamaku. Rina berkulit putih bersih, bergigi rapi, dan bertubuh proporsional. Menurutku cukup enak dipandang. Wajar saja dia sempat mencuri hatiku. Tapi, itu sudah berlalu. Ah, jahat sekali aku memendam ini darinya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar hebat. Mungkin terdengar berlebihan. Tetapi, getarannya mampu menggetarkan hatiku yang kaku. Agnes mengirimiku sebuah pesan. Agnes adalah seorang pencuri yang sangat cantik. Dia telah mencuri hatiku dengan sangat indah. Aku membaca pesan darinya dengan penuh harapan. Ternyata, si penculik–dia juga telah menculik perasaan sayangku–sedang menuju ke PIM!

Ingin sekali aku menemui sang penjahat kelas kakap, yaitu pencuri dan penculik–Agnes. Aku ingin menembak, lalu menangkap, dan setelah itu aku akan menjebloskannya ke dalam penjara hatiku yang paling ketat penjagaannya. Tapi apa daya, aku tidak bisa. Aku tidak mampu. Aku sudah terborgol. Aku terbelenggu oleh borgol yang aku pasang dengan inisiatif sendiri. Borgol yang terbuat dari janji dan status. Janji untuk mempunyai sebuah hubungan khusus, hubungan yang mengubah status. Status yang anak muda di Jakarta sepakat menyebutnya: ‘jomblo’ menjadi ‘jadian’.

Bibir dan lidahku terasa berat ingin membohongi Rina. Aku tidak mau membohongi pacarku sendiri. Namun, perasaan sayangku ke Agnes sungguh hebat. Perasaan itu mampu memaksa bibir dan lidahku mengikuti diet ketat. Aku pun membohongi Rina dengan ringan dan mudah. Aku bilang aku ada janji dengan teman. Dan ia pun pulang tanpa curiga sama sekali.

Agnes sangat cantik hari itu. Sebenarnya sama seperti hari-hari biasanya. Ya, inilah kehebatan cinta. Cinta mampu membuat orang yang dicinta menjadi terlihat lebih menawan. Sungguh senang bisa bertemu denganya, karena aku tahu aku tidak bisa memilikinya. Pertemuan ini sungguh mahal dan berharga, dan terasa cepat sekali.

Sangat cepat. Waktu tampak sedang mempercepat langkahnya mengejar suatu tujuan. Ia tidak senang aku bersama dengan perempuan yang bukan milikku. Dan benar saja, setelah berpisah, waktu menjadi lambat seperti sedang beristirahat sejenak. Hatiku masih melambung tinggi, sangat tinggi dan sedang berada di langit yang ketujuh. Namun ternyata di atas langit masih ada langit lagi. Sekarang hatiku sedang berada di langit kesembilan. Hatiku berdegup kencang–entah karena bahagia yang berlebihan atau rindu yang luar biasa–­saat aku mengingat indahnya bersama Agnes, bagaimana aku menggenggam tangannya erat seakan aku tidak mau melepasnya. Tapi aku tidak bisa.

Setelah beberapa bulan menduakan hati Rina, aku memutuskan berpisah dengan Rina. Tapi, aku tidak mendapatkan Agnes. Aku bisa, tapi aku tidak mau. Agnes yang dulu aku kenal sangat manis, berubah menjadi pahit. Dia terbawa arus dan ikut tercemar oleh arus pergaulan bebas yang penuh polusi. Kisah cinta yang tidak menyenangkan: memutuskan hubungan dan kehilangan dua perempuan.

+ + + + + + +

Kisah cinta itu masih membekas di hati dan pikiran meskipun sudah dua tahun aku lewati. Sebenarnya aku tidak pernah mengingatnya lagi, tapi teman-temanku terus mengorek masa laluku.

Dari awal diskusi, aku selalu mencoba mengalihkan pembicaraan yang berhubungan dengan cinta, apalagi tentang masa lalu. Masa lalu kan sudah berlalu, buat apa dibahas-bahas lagi? Hanya membuat hati ceria menjadi layu dan mengubah wajah segar menjadi sayu. Namun, saat itu teman-teman tercantik dan terbaikku di kelas–Dinda, Neysha, dan Gaby–sedang membahas kisah cinta masing-masing. Ternyata, kisah cinta mereka tidak semanis wajahnya.

Dengan ragu-ragu aku bercerita tentang memori cintaku dua tahun lalu. Seputar hubunganku dengan Rina dan disertai oleh Agnes. Keraguanku bercerita lenyap setelah Neysha berkata bahwa bercerita dengan jujur akan membuat hati lega. Dan memang lega sekali rasanya. Raut wajah mereka berubah. Wajah yang dihinggapi oleh perasaan kecewa dan benci. Mereka benar-benar tidak menyangka aku begitu jahat dan tidak berperasaan. Terutama perihal memiliki hubungan gelap dengan Agnes. Memiliki hubungan gelap memang menyenangkan, sebab tidak diperlukan keterusterangan–di dalam gelap tiada terang karena terang akan menelanjangi kegelapan!–dan juga kesetiaan. Dan akhirnya kekecewaan akan tinggal di ruang hati yang remang-remang itu.

Aku mencoba mengusir perasaan negatif mereka terhadapku dengan sebuah janji: bahwa hal itu tidak akan terulang lagi. Ya, kali ini aku berterus-terang. Aku memang sudah berkomitmen untuk hal yang satu ini.

Sungguh, aku tidak mau main-main lagi dengan masalah cinta. Aku tidak akan sembarangan mengubah statusku dengan sembarangan perempuan, apalagi yang kukenal hanya bagian luarnya saja. Aku serius. Aku belum mempunyai hubungan khusus dengan perempuan manapun hingga saat ini. Aku berpikir bahwa perihal cinta dapat ditunda dan akan datang dengan sendirinya.

Tapi terkadang aku ingin memberontak dan membatalkan janji muluk-muluk itu. Aku butuh pacar. Aku ingin memiliki seseorang yang dapat aku belai rambut indahnya dan dapat aku ajak pergi ke tempat romantis. Lalu menghabiskan waktu dengannya dengan saling menyayangi dan mencintai. Aku yakin hampir semua pria di dunia ini pasti memiliki keinginan yang sama denganku.

Aku memiliki penyakit maag. Dokter menganjurkan untuk menghindari makanan pedas sebab dapat merusak lambungku. Tapi aku tidak peduli, aku memasukkan cabai pedas ke dalam setiap makanan dan aku pun melumatnya dengan nikmat. Mengapa?

Karena aku menginginkan dan membutuhkan rasa itu dalam setiap suap makanan yang aku kunyah dan telan. Sama seperti ketika suara hatiku menyarankan untuk tidak memasukkan perasaan khusus ke dalam hati. Aku mengacuhkan suara hatiku, aku membutuhkan rasa khusus itu–rasa menyayangi dan disayangi–meskipun perih di hati dapat bertambah akut.

Kosong. Hatiku kosong. Tiada seorang perempuan pun yang mendiaminya. Dan tiada seorang pun yang dapat memberi penjelasan berarti. Hatiku–sama seperti sebuah gelas bening–kosong tanpa ada setetes air di dalamnya. Mungkin belum ada air dituang ke dalam gelas ataukah mungkin air di dalam gelas sudah tumpah entah kemana. Dan lagi-lagi tiada seorang pun yang dapat menjelaskan kepadaku. Ya, mungkin karena itu gelasku, itu hatiku. Aku tidak peduli apakah airnya sudah tumpah atau belum dituang, namun aku tahu satu hal: aku ingin gelas itu terisi penuh oleh air yang murni-air yang tidak bernoda. Dengan kata lain: aku mengharapkan cinta yang murni, cinta yang sejati.

Sempat aku berpikir untuk menjalin hubungan cinta dengan beberapa perempuan. Aku memang dekat dengan beberapa perempuan: Patricia, Nadia, Sophia, dan lainnya. Aku memang mudah akrab dengan perempuan. Tapi keinginanku itu selalu dihancurkan oleh komitmenku yang keras seteguh batu karang. Lelah juga aku terus berpikir tentang perasaan. Lalu, kenapa aku tidak merasakan apa yang aku pikir?

+ + + + + + +

Gigiku ngilu sekali. Kemarin baru saja aku kontrol gigi dan mengganti karet kawat gigiku dengan yang baru. Pagi ini aku dibangunkan oleh rasa ngilu yang amat sangat. Hari ini aku bersemangat sekali. Mungkin semangatku terpacu karena ngilu di gigi dan ditambah perih di hati yang sudah kurasakan dari lima hari yang lalu. Aku harus berbuat sesuatu yang berarti hari ini!

Aku bergerak dengan sigap, berpakaian rapi dan wangi. Lalu, aku berangkat ke gereja dengan mengendarai motor 2-tak milik ayah sambil membawa sebuah rencana yang kurasa mampu mengubah situasi hati yang sedang galau. Dan tidak lupa aku mengenakan harapan. Aku pun berangkat dengan sebuah tujuan kecil yang kurasa sangat berarti: mengisi kekosongan hati.

Sesampainya aku di gereja, aku mengirim pesan melalui handphone-ku ke seorang teman. Dan ia pun datang tanpa perlu menunggu lama. Tanpa menunda-nunda, aku menyatakan perasaan cintaku dan kalimat-kalimat itu pun dilengkapi dengan ajakan untuk berpacaran. Aku menembaknya! Aku menembaknya dengan persiapan sangat minim namun dengan akurasi yang sangat tepat. Benar saja, tembakanku tepat mengena di jantung hatinya dan ia menerima aku sebagai pacarnya.

Setelah momen itu, aku pergi dengannya mengelilingi Jakarta. Aku tidak mengikuti kebaktian di hari itu dan mungkin di minggu-minggu berikutnya juga demikian. Aku lebih mementingkan hubungan dengan pacar daripada dengan Tuhan. Aku mampir ke Monas, sungguh menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersamanya, walaupun hanya berbincang-bincang. Aku punya pacar! Bahagia sekali aku saat itu. Seusai berpisah pun kami masih ingin terus bersama. Kami pun melepas rindu dengan tetap berkomunikasi via telepon. Aku berusaha keras agar setiap hari dapat aku lalui dengan kehadirannya, bila sangat tidak memungkinkan bertemu aku akan berkomunikasi dengannya melalui sinyal radio yang ditangkap oleh perangkat yang diberi nama telepon.

Bulan demi bulan aku lalui dengan cinta yang dulu aku sangat dambakan. Namun, aku telah melalaikan tugas utamaku: belajar. Nilaiku sangat buruk, hal ini dikarenakan waktuku habis untuknya. Aku tidak diterima di universitas manapun. Orang tua tidak mau membiayaiku kuliah, mereka sangat kecewa. Aku pun bekerja serabutan. Pacarku masih menerimaku apa adanya, aku pun semakin cinta dengannya. Karena aku sudah bekerja, aku lebih bebas bertemu dengannya kapan saja. Kecelakaan itu terjadi begitu saja, kami berdua memang sedang dimabuk cinta dan diluar kendali. Kecelakaan itu melukai kami berdua dan merenggut harga diri Nadia: Nadia hamil.

Dia memberi tahu itu di rumahnya, saat tidak ada orang di rumah–suasana yang sama seperti kecelakaan terjadi. Aku sangat kaget mendengarnya. Aku tidak sanggup menerima fakta ini. Aku naik ke lantai empat untuk menenangkan diri dan berupaya mencari jalan keluar. Aku pusing sekali. Aku benar-benar bingung. Aku tidak mampu menikahinya, aku tidak punya pekerjaan tetap. Reputasiku hancur! Sial sekali diriku. Tuhan di mana kah Engkau?! Aku kesal karena tidak ada jawaban dari pribadi yang tidak kasat mata itu. Aku mengalami depresi berat. Dan aku menemukan jalan keluar: mati. Tubuhku terasa sangat ringan dan tanpa ada yang mendorong, aku melompat dengan indah menuju kematian. Aku terjerembab dengan cepat dan keras di aspal. Brukk!!

+ + + + + + +

Apakah ini yang namanya kematian? Aku tidak melihat apapun, gelap sekali di sini. Di manakah aku? Belum sempat aku menemukan jawaban itu, aku merasakan sakit. Sakit sekali. Tapi aneh, sakit ini tidak berasal dari sekujur tubuhku yang aku rasa sudah hancur. Tapi berasal dari gigiku. Aku meraba tubuhku, dan ternyata masi utuh. Dan aku sadar aku tidak sedang di neraka, aku berada di atas kasur di dalam kamarku. Aku menyalakan lampu kamar dan teringat bahwa kemarin aku baru saja kontrol gigi.

Puji Tuhan aku tidak mati, aku hanya bermimpi buruk. Dan aku rasa itu bukanlah sekedar mimpi buruk, itu adalah sebuah pencerahan. Aku pun berdoa kepada Tuhan. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas apa yang telah terjadi. Lalu aku bersiap berangkat ke gereja, tentu saja dengan mengendarai motor 2-tak milik ayahku.

Aku bertemu dengan Nadia di gereja. Mimpiku semalam masih membekas di pikiranku. Setiap aku ingin melupakannya, mimpi itu seperti memeluk lebih erat pikiranku. Semakin jelas teringat. Aku berbincang-bincang sejenak dengan Nadia. Kali ini aku mengikuti kebaktian dengan sangat khusyuk. Aku berdoa dengan sepenuh hati. Aku memohon ampun kepada Tuhan. Aku telah meragukan rancangan-Nya dan berusaha memenuhi keinginan sesaatku yang arogan. Tuhan sungguh baik. Dia mengingatkanku akan akibat yang akan kupikul nanti.

Hari ini sungguh luar biasa. Mimpiku semalam terasa seperti sungguhan. Dan untungnya itu sungguh-sungguh mimpi. Selama ini aku bodoh. Aku mencoba mencari-cari cinta. Aku merasa ada kekosongan dalam diriku. Aku tidak peka. Aku merasa membutuhkan seseorang untuk mencintai dan menyayangiku dan juga untuk aku cintai dan sayangi.

Aku cacat. Aku cacat secara metafora. Aku tidak bisa melihat, mendengar, mengecap, mencium, dan merasakan bahwa aku sudah dicintai. Bahkan sangat dicintai! Dia sungguh sempurna, dan hanya dialah yang mampu mengisi kekosongan di hati. Dialah Tuhan, raja di atas segala raja. Yang memberikan kepada ku tempat tinggal, nafas untuk dhirup, keluarga untuk dicintai, tubuh yang dibentuk dan dipilih khusus untuk aku serta masih banyak lagi. Tidak ada orang lain di dunia ini yang benar-benar sama persis denganku! Dan juga Dia telah memberikan talenta yang luar biasa, sehingga aku dapat menulis cerita ini.

Tidak kosong lagi. Sudah penuh. Kekosonganku sudah terisi penuh. Terisi oleh kasih-Nya, sukacita, dan harapan yang baru. Diriku dipenuhi oleh energi positif, semangat yang luar biasa, keberanian, dan optimisme seorang pemenang. Aku tidak takut atau ragu lagi akan setiap masalah ataupun rintangan yang akan aku hadapi. Lalu bagaimana dengan pacar atau pasangan hidup? Aku sudah tidak lagi kuatir akan hal tersebut. Tidak hanya perkara pasangan, setiap aspek hidupku di masa depan sudah dipersiapkan yang terbaik. Dan aku hanya tinggal menjalani semuanya sesuai perintah-Nya. Kenapa aku menjadi begitu percaya? Sebab: ‘TUHAN membuat segala sesuatunya indah pada waktunya.’